PLC (programmable Logic Controller) adalah sebuah alat yang digunakan untuk menggantikan rangkaian sederetan relai yang dijumpai pada sistem kontrol proses konvensional.
PLC bekerja dengan cara mengamati masukan (melalui sensor-sensor terkait), kemudian melakukan proses dan melakukan tindakan sesuai yang dibutuhkan, yang berupa menghidupkan atau mematikan keluarannya.
Dengan kata lain, PLC menentukan aksi apa yang harus dilakukan pada instrumen keluaran berkaitan dengan status suatu ukuran atau besaran yang diamati
Sejarah PLC
• Thn 1960-an : PLC pertama kali diperkenalkan oleh Bedford Associates dengan nama MODICON (Modular Digital Controller) untuk perusahaan-perusahaan mobil di USA.
• Mid thn 1970-an : Dominasi sekuenser mesin-kondisi dan CPU berbasis bit-slice seperti prosessor AMD 2901 dan 2903. Sistem yang pertama adalah Modbus MODICON.
• Thn 1980-an : Standarisasi komunikasi dengan protokol otomasi oleh General Motor. Ukuran PLC semakin kecil dan penggunaan komputer PC dalam pembuatan software pemrograman .
Thn 1990-an- sekarang : Reduksi protokol baru dan modernisasi lapisan fisik dari protokol-protokol populer. Standar terakhir adalh IEC 1131-3 yang berusaha menggabungkan bahasa pemrograman PLC dibawah satu standar internasional. (mis : diagram fungsi blok, daftar instruksi, C dan teks terstruktur pada saat yang bersamaan).
Keunggulan dari pada PLC
1. Fleksibilitas yang tinggi
2. Analisa dan identifikasi masalah mudah dan cepat
3. Ruang penyimpanan lebih kecil
4. Perubahan dapat dilakukan tanpa mendesain ulang instalasi pengkabelan.
Pendekatan Sistematik dalam Perancangan Sistem Kontrol Proses
• Pemilihan instrumen atau sistem yang hendak dikontrol.
• Menentukan semua instrumen masukan dan keluaran yang akan dihubungkan dengan PLC.
• Membuat program dengan bahasa pemrograman (umumnya digunakan ladder diagram).
• Menyimpan program ke dalam PLC baik secara langsung melalui terminal konsole atau melalui komputer PC.
Komponen-komponen PLC
• Unit Pengolah Pusat (CPU)
• Memori
• Pemrograman PLC
• Catu daya PLC
• Masukan-masukan PLC
• Pengaturan atau Antarmuka masukan (input interface).
• Keluaran-keluaran PLC
• Pengaturan atau antarmuka keluaran (output interface ).
• Jalur ekstensi atau tambahan
1. Unit Pengolah Pusat (CPU)
• Merupakan otak dari sebuah kontroller PLC.
• Biasanya berupa sebuah mikrokontroler. (mikrokontroler 8-bit, 16-bit, atau 32-bit).
• Menangani komunikasi dengan piranti eksternal, interkonektivitas antar bagian-bagian internal PLC, eksekusi program, manajemen memori, mengawasi atau mengamati masukan dan memberikan sinyal ke keluaran sesuai dengan proses atau program yang dijalankan.
• Memiliki rutin kompleks untuk proteksi dan mendeteksi kerusakan memori PLC. Biasanya berupa indikator lampu atau alarm.
2. Memori
• Menyimpan sistem operasi
• Menyimpan program yang akan dijalankan (dalam bentuk biner)
• Menyimpan hasil terjemahan ladder diagram yang dibuat oleh user.
Tipe memori (volatile dan nonvolatile) : RAM, ROM, EPROM, EEPROM.
3. Pemrograman PLC
• Kontroler PLC dapat diprogram melalui komputer tetapi dapat pula melalui pemrogram manual, yang biasa disebut konsol (console).
• Masing-masing produk PLC membutuhkan perangkat lunaknya masing-masing.
4. Catu Daya PLC
• Digunakan untuk memberi pasokan catu daya ke seluruh bagian PLC (termasuk CPU, memori,dll)
• PLC umumnya bekerja dengan catu daya 24VDC atau 220VAC.
• Letaknya umumnya terpisah dari modul-modul lainnya.
• Tidak memberikan catu daya langsung ke masukan dan keluaran.
5. Masukan-masukan PLC
• Dibutuhkan sensor-sensor yang tepat untuk mendeteksi proses atau kondisi dan status suatu proses yang terjadi.
• Idealnya, sebuah PLC hanya memiliki jalur masukan digital saja. Tapi untuk PLC dalam ukuran besar, dapat pula mendeteksi masukan analog.
• Peralatan lain yang dapat menjadi masukan PLC adalah citra, robot, dll.
6. Interface Masukan
• Berada diantara jalur masukan dan unit CPU.
• Fungsinya untuk melindungi CPU dari sinyal-sinyal yang tidak dikehendaki yang dapat merusak CPU dari PLC dengan jalan mengkonversi sinyal-sinyal masukan dari luar ke bentuk sinyal yang sesuai dengan tegangan kerja CPU yang bersangkutan.
• Contohnya adalah dengan menggunakan rangkaian opto isolator.
7. Keluaran-keluaran PLC
• Keluaran dapat berupa analog atau digital. Contohnya : motor, solenoida, relai, lampu indikator, speaker, dll.
• Keluaran digital bertingkah seperti saklar, menghubungkan dan memutuskan jalur.
• Keluaran analog digunakan untuk menghasilkan sinyal analog.
8. Jalur ekstensi/ tambahan
Setiap PLC memiliki jumlah masukan dan keluaran yang terbatas. Jika diinginkan jumlahnya dapat ditambahkan dengan menggunakan sebuah modul keluaran atau masukan tambahan (I/O expansion atau I/O extension module).
PLC bekerja dengan cara mengamati masukan (melalui sensor-sensor terkait), kemudian melakukan proses dan melakukan tindakan sesuai yang dibutuhkan, yang berupa menghidupkan atau mematikan keluarannya.
Dengan kata lain, PLC menentukan aksi apa yang harus dilakukan pada instrumen keluaran berkaitan dengan status suatu ukuran atau besaran yang diamati
Sejarah PLC
• Thn 1960-an : PLC pertama kali diperkenalkan oleh Bedford Associates dengan nama MODICON (Modular Digital Controller) untuk perusahaan-perusahaan mobil di USA.
• Mid thn 1970-an : Dominasi sekuenser mesin-kondisi dan CPU berbasis bit-slice seperti prosessor AMD 2901 dan 2903. Sistem yang pertama adalah Modbus MODICON.
• Thn 1980-an : Standarisasi komunikasi dengan protokol otomasi oleh General Motor. Ukuran PLC semakin kecil dan penggunaan komputer PC dalam pembuatan software pemrograman .
Thn 1990-an- sekarang : Reduksi protokol baru dan modernisasi lapisan fisik dari protokol-protokol populer. Standar terakhir adalh IEC 1131-3 yang berusaha menggabungkan bahasa pemrograman PLC dibawah satu standar internasional. (mis : diagram fungsi blok, daftar instruksi, C dan teks terstruktur pada saat yang bersamaan).
Keunggulan dari pada PLC
1. Fleksibilitas yang tinggi
2. Analisa dan identifikasi masalah mudah dan cepat
3. Ruang penyimpanan lebih kecil
4. Perubahan dapat dilakukan tanpa mendesain ulang instalasi pengkabelan.
Pendekatan Sistematik dalam Perancangan Sistem Kontrol Proses
• Pemilihan instrumen atau sistem yang hendak dikontrol.
• Menentukan semua instrumen masukan dan keluaran yang akan dihubungkan dengan PLC.
• Membuat program dengan bahasa pemrograman (umumnya digunakan ladder diagram).
• Menyimpan program ke dalam PLC baik secara langsung melalui terminal konsole atau melalui komputer PC.
Komponen-komponen PLC
• Unit Pengolah Pusat (CPU)
• Memori
• Pemrograman PLC
• Catu daya PLC
• Masukan-masukan PLC
• Pengaturan atau Antarmuka masukan (input interface).
• Keluaran-keluaran PLC
• Pengaturan atau antarmuka keluaran (output interface ).
• Jalur ekstensi atau tambahan
1. Unit Pengolah Pusat (CPU)
• Merupakan otak dari sebuah kontroller PLC.
• Biasanya berupa sebuah mikrokontroler. (mikrokontroler 8-bit, 16-bit, atau 32-bit).
• Menangani komunikasi dengan piranti eksternal, interkonektivitas antar bagian-bagian internal PLC, eksekusi program, manajemen memori, mengawasi atau mengamati masukan dan memberikan sinyal ke keluaran sesuai dengan proses atau program yang dijalankan.
• Memiliki rutin kompleks untuk proteksi dan mendeteksi kerusakan memori PLC. Biasanya berupa indikator lampu atau alarm.
2. Memori
• Menyimpan sistem operasi
• Menyimpan program yang akan dijalankan (dalam bentuk biner)
• Menyimpan hasil terjemahan ladder diagram yang dibuat oleh user.
Tipe memori (volatile dan nonvolatile) : RAM, ROM, EPROM, EEPROM.
3. Pemrograman PLC
• Kontroler PLC dapat diprogram melalui komputer tetapi dapat pula melalui pemrogram manual, yang biasa disebut konsol (console).
• Masing-masing produk PLC membutuhkan perangkat lunaknya masing-masing.
4. Catu Daya PLC
• Digunakan untuk memberi pasokan catu daya ke seluruh bagian PLC (termasuk CPU, memori,dll)
• PLC umumnya bekerja dengan catu daya 24VDC atau 220VAC.
• Letaknya umumnya terpisah dari modul-modul lainnya.
• Tidak memberikan catu daya langsung ke masukan dan keluaran.
5. Masukan-masukan PLC
• Dibutuhkan sensor-sensor yang tepat untuk mendeteksi proses atau kondisi dan status suatu proses yang terjadi.
• Idealnya, sebuah PLC hanya memiliki jalur masukan digital saja. Tapi untuk PLC dalam ukuran besar, dapat pula mendeteksi masukan analog.
• Peralatan lain yang dapat menjadi masukan PLC adalah citra, robot, dll.
6. Interface Masukan
• Berada diantara jalur masukan dan unit CPU.
• Fungsinya untuk melindungi CPU dari sinyal-sinyal yang tidak dikehendaki yang dapat merusak CPU dari PLC dengan jalan mengkonversi sinyal-sinyal masukan dari luar ke bentuk sinyal yang sesuai dengan tegangan kerja CPU yang bersangkutan.
• Contohnya adalah dengan menggunakan rangkaian opto isolator.
7. Keluaran-keluaran PLC
• Keluaran dapat berupa analog atau digital. Contohnya : motor, solenoida, relai, lampu indikator, speaker, dll.
• Keluaran digital bertingkah seperti saklar, menghubungkan dan memutuskan jalur.
• Keluaran analog digunakan untuk menghasilkan sinyal analog.
8. Jalur ekstensi/ tambahan
Setiap PLC memiliki jumlah masukan dan keluaran yang terbatas. Jika diinginkan jumlahnya dapat ditambahkan dengan menggunakan sebuah modul keluaran atau masukan tambahan (I/O expansion atau I/O extension module).
0 komentar:
Poskan Komentar